Golden Age, is every child’s golden moments

Berbicara mengenai golden age, atau masa keemasan, sudah tentu bukan hal baru bagi orangtua maupun klinisi yang berkecimpung dengan pasien pediatrik. Masa keemasan seorang anak menjadi menarik karena berlangsung dalam waktu yang hanya singkat saja. Hanya mengambil waktu 0-5 tahun pertama kehidupan seorang anak.1

Plastisitas Otak Bayi dan Anak

Plastisitas otak merupakan kemampuan susunan saraf untuk menyesuaikan diri terhadap perubahan atau kerusakan yang disebabkan oleh faktor eksternal atau internal. Dapat terjadi penyesuaian, berupa perubahan anatomi yaitu kemampuan sinaps untuk regenerasi akson, atau memperluas permukaan dendrit; kemampuan neurokimiawi berupa peningkatan sintesa neurotransmitter atau kepekaan sinaps; serta perubahan metabolik (peningkatan glukosa, oksigen) pada sel-sel neuron.1

Kemampuan yang dimiliki bayi dan anak tersebut disebabkan karena bayi memiliki jumlah sel neuron, percabangan akson dan dendrit serta jumlah sinaps yang lebih banyak dibandingkan dengan dewasa. Struktur yang dimanfaatkan oleh bayi akan menetap selamanya, bahkan berkembang menjadi rangkaian fungsional, tetapi bila tidak dimanfaatkan sejak bayi maka maka struktur tersebut akan mengalami eleminasi.1

Oleh karena itu, diperlukan rangsangan yang terus menerus melalui berbagai sistem agar struktur yang masih ada dapat dioptimalkan untuk mengambil alih fungsi struktur yang rusak. Tetapi bila kerusakan luas, atau terjadi dalam awal proses perkembangan, maka jumlah struktur yang terbentuk tidak akan mencukupi untuk mengambil alih fungsi struktur yang rusak.1

Tahapan Perkembangan Beberapa Struktur Otak

Perkembangan otak terjadi secara bertahap. Proses yang terjadi meliputi migrasi, yaitu berpindahnya sel-sel otak sesuai dengan fungsinya kelak menempati lokasi-lokasi tertentu dari belahan otak, diferensiasi yaitu perubahan sel-sel otak menjadi berbagai macam sel saraf dengan fungsi-fungsi khusus atau spesifik, sinaptogenesis yaitu terbentuknya hubungan antar sel saraf, serta mielinisasi yang berperan dalam hubungan dan komunikasi antar sel saraf.1

Pada saat bayi masih berada dalam kandungan, proses perkembangan struktur otak yang terjadi yaitu migrasi (hingga bayi lahir berusia 6 bulan), diferensiasi dan sinaptogenesis (terjadi hingga bayi lahir dan berusia sekitar 4 tahun), serta mielinisasi (hingga anak berusia 4-5 tahun). Proses pematangan otak bukan hanya semata-mata proses biologis, namun sangat dipengaruhi oleh kualitas pengalaman interaksi dengan lingkungan pengasuhan.1

Sinaptogenesis, merupakan penghubung antara sel-sel saraf. Semakin banyak sinaps antara sel-sel saraf, maka akan semakin kompleks pula kemampuan menerima, mengolah, menimpan dan menjawab rangsang yang diterima oleh sel-sel saraf. Secara umum, jumlah sinaps meningkat pesat antara usia 2-4 bulan. Suatu penelitian berupa analisis kurva metabolisme glukosa otak menunjukkan bahwa proliferasi sinaptogenesis di korteks serebri terjadi sejak bayi dilahirkan hingga anak berusia 4 tahun. Antara usia 4 tahun hingga 9-10 tahun, jumlah sinaps sangat berlebih sehingga terlihat aktivitas metabolisme glukosa otak yang lebih tinggi dibandingkan dewasa. Sinaps-sinaps yang tidak mendapat rangsangan secara bertahap akan berdegenerasi.1

Sinaptogenesis di bagian otak dengan fungsi penglihatan berlangsung cepat di usia 3-4 bulan, pada fungsi pendengaran hampir 80% telah berkembang di usia 3 bulan, namun belum mencapai 100% di usia 1 tahun, dilaporkan bahwa bagian otak untuk fungsi pendengaran ini mencapai fungsi seperti orang dewasa. Untuk fungsi bahasa, area otak khususnya di bagian kiri (lobus temporalis posterior) akan mempertahankan sinaps-sinaps sedangkan bagian yang kanan sinapsnya akan berkurang. Namun bila terjadi kerusakan pada lobus kiri, sinaps di lobus kanan akan dipertahankan agar dapat mengambil alih fungsi lobus kiri yang rusak; namun hal ini berlaku hanya pada kasus-kasus yang terjadi pada usia kurang dari 8 tahun.1

Mielenisasi merupakan proses penting lainnya dalam tahapan perkembangan otak, karena mielin sangat penting untuk kecepatan hantaran rangsangan melalui sel-sel saraf. Sebagian besar proses mielinisasi ini selesai pada saat usia anak mencapai 10 tahun.1

Tahapan Maturasi Fungsi Otak

Dengan menggunakan alat canggih seperti Positron Emission Tomography, dan metode autoradiografik dengan 14 C-2-deoxyglukosa, akan dapat dilakukan pengukuran kadar tingkatan penggunaan glukosa di bagian otak, dimana kadar glukosa tersebut menggambarkan peningkatan sinaptogenesis, pematangan fungsi sel-sel saraf dan maturasi perilaku.1

Pada bayi baru lahir, tampak nyata bahwa aktivitas metabolisme glukosa tertinggi berada di daerah sistem limbik. Hal ini menerangkan bahwa pada bayi baru lahir, telah mampu melakukan interaksi emosi dengan ibunya dan merupakan hal yang penting dalam pembentukan ikatan hubungan ibu dan bayi (mother-infant bonding/attachment).1

Pada usia 2-3 bulan, terlihat peningkatan penggunaan glukosa di bagian-bagian otak yang bertanggungjawab dalam fungsi penglihatan, sensorik, motorik, dan pengenalan ruang atau visuospasial. Pada usia 6-8 bulan, bagian otak depan, tengah dan belakang menunjukkan aktivitas metabolisme yang tinggi, dan hal ini sejalan dengan bertambahnya kemampuan kognitif/kepandaian bayi, misalnya mengenali orang asing, kemampuan membedakan gambar.1

Di usia 4-10 tahun, aktivitas metabolisme glukosa di otak tetap tinggi hingga 2 kali lipat dibandingkan dengan dewasa, namun tidak lebih tinggi dibandingkan dengan periode usia sebelumnya. Di usia 10-18 tahun, tingkat metabolisme glukosa korteks serebri menurun dan mencapai tingkat metabolisme dewasa di usia 16-18 tahun.1

Prinsip Umum Stimulasi Psikososial Bayi 1

  1. 1.      Waktu

Bila intervensi dan stimulasi dilakukan sejak dini dan berlangsung lebih lama akan memberikan manfaat lebih besar dibandingkan dengan intervensi yang terlambat atau berlangsung dalam waktu singkat. Intervensi sejak masa neonatal menunjukkan manfaat terbesar pada fungsi kognitif dan pra akademik. Pada usia 8 tahun, anak yang mendapatkan intervensi berkelanjutan sejak bayi (selama 8 tahun) menunjukkan kemampuan terbaik dibanding dibanding kelompok lain dalam hal membaca dan matematika, serta melampaui kemampuan anak yang mendapat latihan sejak TK (selama 5 tahun) dan kelompok yang dilatih hanya di sekolah dasar saja.

  1. 2.      Jenis stimulasi

Tidak semua bayi dengan stimulasi yang sama memberikan hasil yang sama, hal ini menunjukkan bahwa stimulasi harus multimodal. Stimulasi yang diberikan meliputi: rangsang taktil (pijat, fleksi ekstensi, posisi), vestibular kinestetik (menggoyang, mengayun), pendengaran (menyanyi, musik, mendengar suara ibu, mendengar irama jantung ibu, serta visual (gerakan, warna, bentuk). Namun demikian, terdapat pendapat yang menyatakan bahwa rangsangan multimodal dapat menyebabkan stres pada anak, dibandingkan dengan stimulasi cara tunggal. Sebelum usia 3 tahun, stimulasi diarahkan untuk mencapai semua aspek perkembangan (penglihatan, pendengaran, kognitif, sosial-kemandirian, gerak halus dan kasar), sedangkan di atas usia 3 tahun maka stimulasi diarahkan lebih spesifik untuk kesiapan akademik berupa menggambar, mengenal bentuk, huruf, angka, menulis, membaca, berhitung, serta keterampilan emosi-sosial dan kemandirian.

  1. 3.      Intensitas

Program intensif akan memberikan hasil yang lebih besar. Namun demikian, isyarat perilaku bayi dapat digunakan sebagai penentu intensitas yang cocok bagi bayi. Bila didapatkan tanda ketegangan atau perilaku menghindar, maka stimulasi harus dihentikan. Intensitas harus lebih banyak agar didapatkan efek positif yang dapat terukur.

  1. 4.      Perbedaan individual

Hasil stimulasi pada beberapa individu dengan metode yang sama dapat menghasilkan kemajuan yang berbeda, tergantung pada faktor risiko sebelum intervensi dan derajat kecocokan antara program dengan cara belajar anak. Bayi dengan faktori risiko dapat menunjukkan perkembangan yang lambat meskipun sesungguhnya bermakna. Anak yang kemampuannya reltif lebih tinggi akan dapat mengerti instruksi langsung, sedangkan anak yang kemampuannya relatif lebih rendah lebih bermanfaat bila diberikan instruksi tidak langsung.

  1. 5.      Keterpaduan

Masih terdapat pendapat berbeda apakah intervensi cukup dilakukan pada bayi langsung, dilakukan oleh orangtua saja, atau kombinasi keduanya. Penelitian yang telah dilakukan menunjukkan hasil yang bervariasi.

  1. 6.      Dukungan yang berkelanjutan

Semakin lama, pengaruh positif stimulasi akan berkurang jika tidak ada dukungan yang adekuat untuk mempertahankan sikap dan perilaku yang positif serta untuk memacu pembelajaran lanjutan yang sesuai dengan kebutuhan anak. Oleh karena itu diperlukan intervensi yang berkelanjutan untuk mendapatkan hasil yang optimal.

 

Pedoman Umum Stimulasi

Orangtua menyediakan stimulasi melalui 2 cara, yaitu pengaturan lingkungan yang merangsang kegiatan sensorimotor, atau dengan langsung berinteraksi dengan bayinya.

  • Stimulasi penglihatan

Rangsang visual sebaiknya terdiri atas warna yang mencolok, kontras gelap dan terang (misalnya berupa garis-garis, lingkaran sepusat, bentuk geometrik), obyek bergerak dan permukaan bertekstur. Wajah manusia merupakan obyek yang paling disukai dan paling menarik perhatian. Tatapan wajah yangs angat dekat memungkinkan stimulasi visual, auditori, dan taktil secara bermakna. Perubahan posisi yang sering misalnya dari telentang ke tengkurang, tempat tidur ke gendongan, kursi ke ayunan, akan memungkinkan bayi mendapatkan berbagai stimulasi penglihatan dan pemandangan yang berbeda.

  • Stimulasi pendengaran

Untuk merangsang pendengaran, bayi diajak berbicara, bernyanyi. Paparan terhadap musik, suara dari lingkungan sekitar, kebiasaan membacakan cerita untuk bayi akan membantu merangsang pendengaran bayi. Namun perlu diperhatikan agar hal-hal tersebut tidak terlalu bising sehingga justru malah menyebabkan bayi merasa tidak nyaman. Bayi yang berada dalam lingkungan yang terlalu gaduh akan terlatih untuk tidak memperhatikan gangguan tersebut, berakibat kelak akan sulit membedakan dengan menggunakan pendengaran dan perhatian.

  • Stimulasi taktil

Sensasi sentuhan adalah hal yang paling berkembang pada saat lahir, bahkan perkembangannya sudah dimulai dari sejak sebelum bayi dilahirkan dan mendahului perkembangan fungsi-fungsi sensasi lainnya. Kegiatan seperti memegang, menimang, mengurut, menepuk, memijat dan memandikan merupakan kegiatan yang sangat penting bagi bayi untuk merasakan sensasi sentuhan yang berbeda-beda. Mainan yang mempunyai permukaan bervariasi (lembut, licin, fleksibel, dan lainnya) juga memungkinkan untuk memberikan pengalaman perabaan yang beragam bagi bayi.

  • Stimulasi pengecapan dan pembauan

Dapat dilakukan dengan memberikan variasi rasa dan tekstur makanan yang berbeda.

  • Koordinasi visual dan gerak

Hal tersebut dilakukan dnegan memberikan mainan yang dapat dilihat dan diraih oleh bayi, meletakkan mainan yang agak jauh sehingga bayi berusaha untuk bergerak meraihnya, menyediakan mainan yang dapat dipukul-pukul, atau ditumpahkan dan dimasukkan kembali.

  • Peran orangtua

Orangtua dalam fase perkembangan anak adalah guru utama seorang anak. Orangtua tidak hanya menyediakan lingkungan belajar, namun juga menyediakan contoh perilaku bagi anak. Keterlibatan orangtua saat bermain dengan anak sangat penting untuk perkembangan anak. Pada suatu literatur disebutkan peran orangtua dalam perkembangan anak memerlukan kekuatan 5P 4R, yang dijelasakan sebagai berikut.

–          Penyediaan lingkungan pembelajaran

–          Predictability, bahwa sikap orangtua dapat diramalkan

–          Pingpong process, yaitu bermain dengan anak secara 2 arah

–          Persisten, yaitu selalu mendorong anak agar tetap tertarik dengan berbagai kegiatan yang dilakukannya

–          Tidak menjadi profesor, yaitu tidak menjadi orangtua yang selalu berbicara sehingga tidak memberik kesempatan pada anak.

Rangsangan 4R yang diberikan untuk anak yaitu meliputi:

–          Responsiveness

–          Reasoning

–          Rasionality

–          Reading

Keterlibatan dengan bayi akan membuat orangtua dapat memahami perasaan bayi, mengetahui apa yang menarik bagi bayi, memberikan kesempatan bagi bayi untuk mempelajari keterampilan dan memberikan kesempatan untuk bayi untuk mengembangkan keterampilannya dengan cara, bahan, dan perilaku yang lebih baru. Penting untuk menyeimbangkan kapan bayi memulai sendiri kegiatan bebas dan kapan orangtua melakukan kegiatan interaktif.

Peranan Taman Penitipan Anak dalam Upaya Pembinaan Tumbuh Kembang Anak

Dengan semakin meningkatnya taraf pendidikan dan keterampilan wanita Indonesia, serta berkembangnya perekonomian di negara kita, maka semakin terbuka lapangan kerja untuk wanita di berbagai bidang, dan semakin banyak pula ibu yang bekerja di luar rumah. Akibatnya, semakin banyak balita yang ditinggal bekerja oleh orangtuanya, sedangkan anggota keluarga lain belum tentu mudah diminta bantuannya. Meninggalkan anak di rumah bersama pramuwisma/pramubayi seringkali menimbulkan ketidaktenangan bagi ibu dan ayah karena khawatir risiko yang mungkin terjadi pada anak di rumah, seperti masalah kesehatan, gangguan pertumbuhan dan perkembangan.

Dalam konsep pembinaan tumbuh kembang anak, maka tujuan penyelenggaraan TPA adalah menjadi pengganti keluarga sementara. Dengan TPA, diharapkan akan terbuka kemungkinan lebih banyak untuk meningkatkan kualitas tumbuh kembang anak melalui pencegahan, pelayanan kesehatan primer, dan pemantauan kesehatan. Bila di TPA setiap harinya anak dipantau oleh pengasuh yang terlatih dan dibantu oleh konsultan profesional, maka diharapkan akan cepat terdeteksi masalah-masalah yang timbul dan segera dapat dilakukan intervensi.

Tumbuh kembang anak yang optimal, di manapun anak berada, harus dipenuhi kebutuhan dasar tumbuh kembangnya yaitu meliputi kebutuhan fisik/biomedis, kebutuhan emosi/kasih sayang, dan kebutuhan stimulasi atau pendidikan. Yang berkewajiban mencukupi kebutuhan dasar tersebut adalah seluruh komponen yang ada di sekitar anak, terutama orangtua dan anggota keluarga lain, serta lingkungannya. Semakin erat dan semakin sering faktor di lingkungan tersebut berinteraksi dengan anak, maka faktor tersebut semakin besar peranannya dalam menentukan kualitas tumbuh kembang anak. Hal ini menjadi permasalahan bagi orangtua yang bekerja.

TPA dapat dimanfaatkan untuk membantu meningkatkan kualitas perkembangan melalui program stimulasi  atau intervensi dini. Banyak penelitian menemukan bahwa seorang anak yang normal, tetapi bila berada di lingkungan yang tidak memberi stimulasi yang memadai akan mengalami keterlambatan perkembangan pada masa pra-sekolah. Program yang terstruktur dan intensif akan menghasilkan peningkatan perkembangan yang lebih besar dan berlangsung lama. Namun demikian, kualitas perkembangan tetap bergantung pada keterlibatan keluarga.

 

DAFTAR BACAAN

1.            Soedjatmiko. Stimulasi dini untuk bayi dan balita. In: Pulungan AB, Hendarto A, Hegar B, Oswari H, eds. Continuing Professional Development – Nutrition Growth and Development. Jakarta: Penerbit IDAI Jaya; 2006:27-44.

 

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s