Pernikahan Usia Dini dan Permasalahannya

Media massa Indonesia dalam beberapa waktu terakhir diramaikan dengan pemberitaan pernikahan anak berusia 12 tahun dan pria berusia 43 tahun di Jawa Tengah. Selain itu, masih hangat dibicarakan pula mengenai pernikahan model belia berusia 16 tahun dengan anggota keluarga kerajaan disertai isu kekerasan dalam rumah tangga di dalamnya. Meskipun praktek pernikahan di usia dini telah banyak berkurang di berbagai belahan negara dalam 30 tahun terakhir, namun kenyataannya hal ini masih banyak terjadi di negara miskin – berkembang terutama di pelosok terpencil. Pernikahan usia dini ini ternyata masih terjadi baik di daerah pedesaan maupun perkotaan di Indonesia, meliputi berbagai strata ekonomi, dengan beragam motif yang melatarbelakanginya.1

Berdasarkan Survei Data Kependudukan Indonesia (SDKI) 2007, di beberapa daerah didapatkan bahwa sepertiga dari jumlah pernikahan terdata dilakukan pasangan usia di bawah 16 tahun. Jumlah kasus pernikahan dini mencapai 50 juta penduduk dengan rata-rata usia perkawinan di Indonesia, yakni 19,1 tahun. Di Jawa Timur, angka pernikahan dini mencapai 39,43 persen; Kalimantan Selatan 35,48 persen; Jambi 30,63 persen; dan Jawa Barat 36 persen. Bahkan, di sejumlah pedesaan, pernikahan seringkali dilakukan segera setelah anak perempuan mendapat haid pertama.2 Data dari Bappeda Jawa Barat tahun 2005 didapatkan bahwa usia menikah di bawah 17 tahun mencapai 59,37%. Sebagian besar atau 30,95% terjadi di Kabupaten Cianjur. Selain itu didapatkan pula bahwa perempuan tiga kali lebih banyak menikah dini dibandingkan laki-laki.3

Menikah di usia kurang dari 18 tahun merupakan realita yang harus dihadapi sebagian anak di seluruh dunia, terutama negara berkembang.3-6 Deklarasi Hak Asasi Manusia di tahun 1954 secara eksplisit menentang pernikahan anak, namun ironisnya, praktek pernikahan usia dini masih berlangsung di berbagai belahan dunia dan hal ini merefleksikan kegagalan perlindungan hak asasi kelompok usia muda yang terabaikan.3 Undang-undang pernikahan telah mengatur batas usia termuda untuk menikah, tetapi kenyataannya, hukum ini tidak efektif, dan terpatahkan oleh adat istiadat serta tradisi yang mengatur norma sosial suatu kelompok masyarakat. Dalam konteks kultural, pernikahan anak dapat diterjemahkan sebagai bentuk “persetujuan” terhadap eksploitasi dan perlakuan salah pada anak oleh orangtua dan keluarganya.4-6

Suatu studi literasi UNICEF menemukan bahwa interaksi berbagai faktor menyebabkan anak berisiko menghadapi pernikahan di usia dini. Diketahui secara luas bahwa pernikahan anak berkaitan dengan tradisi dan budaya, sehingga sulit untuk merubah hal tersebut.4,6-8 Motif ekonomi, harapan tercapainya keamanan sosial dan finansial setelah menikah menyebabkan banyak orangtua mendorong anaknya untuk menikah di usia muda.5 Apapun alasannya, pernikahan anak merupakan bentuk pelanggaran hak asasi anak untuk tumbuh dan berkembang secara optimal.7-9 Pernyataan senada juga dikeluarkan oleh International Humanist and Ethical Union, bahwa pernikahan anak merupakan bentuk perlakuan salah pada anak (child abuse).3,9,10 Komunitas internasional menyadari pula bahwa masalah pernikahan anak merupakan masalah yang sangat serius.1 Implikasinya secara umum, bahwa kaum wanita dan anak-lah yang akan menanggung risiko dalam berbagai aspek, berkaitan dengan pernikahan yang tidak diinginkan, hubungan seksual yang dipaksakan, kehamilan di usia yang sangat muda, selain juga meningkatnya risiko penularan infeksi HIV, penyakit menular seksual lainnya hingga kanker leher rahim.3-10 Konsekuensinya yang luas dalam berbagai aspek kehidupan tentunya merupakan hambatan dalam mencapai Millennium Developmental Goals.4,8,10

Dalam referat ini akan dibahas mengenai pernikahan anak, permasalahannya ditinjau dari berbagai faktor, termasuk tinjauan dari segi hukum yang dikaitkan dengan pelanggaran terhadap hak asasi sebagaimana tercantum dalam Konvensi Hak Anak.

2.   Definisi

2.1Definisi Anak

Berdasarkan ilmu tumbuh kembang, anak adalah seseorang yang terbentuk sejak masa konsepsi sampai akhir masa remaja. Definisi umur anak dalam Undang-undang (UU)  Pemilu No.10 tahun 2008 (pasal19, ayat1) hingga berusia 17 tahun, UU Perkawinan No.1 Tahun 1974 dengan batas minimal menikah bagi perempuan 16 tahun dan lelaki 19 tahun. Berdasarkan UU No. 23 tahun 2002, anak adalah seseorang yang belum berusia 18 tahun, termasuk dalam anak yang masih berada dalam kandungan.11

2.2 Definisi Perkawinan

Perkawinan menurut UU Perkawinan No.1 tahun 1974 pasal 6 menyatakan bahwa perkawinan didasarkan atas persetujuan kedua calon mempelai, untuk melangsungkan perkawinan seorang yang belum mencapai usia 21 tahun harus mendapat izin orangtua. Pada pasal 7 disebutkan bahwa perkawinan hanya diizinkan bila pihak pria mencapai umur 19 tahun dan pihak wanita sudah mencapai usia 16 tahun.12

Pernikahan anak didefinisikan sebagai pernikahan yang terjadi sebelum anak mencapai usia 18 tahun, sebelum anak matang secara fisik, fisiologis, dan psikologis untuk bertanggungjawab terhadap pernikahan dan anak yang dihasilkan dari pernikahan tersebut.13

3.  Tinjauan Epidemiologis  Pernikahan Anak di Penjuru Dunia

Dari hasil penelitian UNICEF, ditemukan  bahwa angka kejadian pernikahan anak berusia 15 tahun di Indonesia (2002) berkisar 11%, sedangkan yang menikah di saat usia tepat 18 tahun sekitar 35%.8 Data dari National Family Health Survey di India (2005-2006) didapatkan bahwa 44,5% populasi wanita berusia 20-24 tahun ternyata menikah di usia 18 tahun, 22,6% di antaranya menikah pada usia 16 tahun, dan sisanya menikah sebelum mereka berusia 13 tahun.6,8

Praktek pernikahan usia dini paling banyak terjadi di Afrika dan Asia Tenggara. Di Asia Tenggara didapatkan data bahwa sekitar 10 juta anak usia di bawah 18 tahun telah menikah. Sedangkan di Afrika diperkirakan bahwa 42 persen populasi anak menikah sebelum mereka berusia 18 tahun. Di Amerika Latin dan Karibia, 29% wanita muda menikah saat mereka berusia 18 tahun. Kasus pernikahan usia dini ini paling tinggi tercatat di Nigeria (79%), selanjutnya Kongo (74%), Afganistan (54%), Bangladesh (51%).8

Menikahnya anak perempuan sebelum berusia 15 tahun sangat jarang, namun didapatkan bahwa di Afrika dan daerah Afrika Barat, seorang anak perempuan telah menikah saat berusia 7 tahun, serta suatu survei yang dilakukan di India tahun 1998 mendapatkan bahwa sekitar 14% gadis usia 10-14 tahun telah dinikahkan.3 Terdapat kasus dimana seorang anak perempuan di Afganistan bahkan telah dinikahkan saat berusia 3 tahun dengan sepupunya yang berusia 7 tahun.3 Secara umum, pernikahan anak lebih sering terjadi pada anak perempuan dibandingkan anak laki-laki: sekitar 5% anak laki-laki menikah sebelum mereka berusia 19 tahun.

Analisis Survey Penduduk Antar Sensus (SUPAS) 2005 dari Badan Koordinasi Keluarga Berencana Nasional (BKKBN) didapatkan data angka pernikahan di perkotaan lebih rendah dibanding di perdesaan, namun untuk kelompok umur 15-19 tahun perbedaannya cukup tinggi yaitu 5,28% di perkotaan dan 11,88% di perdesaan. Hal ini menunjukkan bahwa wanita usia muda di perdesaan lebih banyak yang melakukan perkawinan pada usia muda.2

Banyak negara menetapkan bahwa usia termuda yang dinyatakan sah untuk menikah yaitu pada usia 18 tahun. Pada usia ini dianggap telah mencapai maturitas dan mampu bertanggungjawab atas tindakan yang diperbuatnya. Meskipun pernikahan anak merupakan masalah predominan di negara berkembang, terdapat bukti bahwa kejadian ini juga masih berlangsung di negara maju di mana orangtua menyetujui pernikahan anak berusia kurang dari 15 tahun.5

4.  Permasalahan dalam Pernikahan Anak

Pernikahan anak ditandai dengan beberapa karakteristik sebagai berikut; yaitu dapat disertai perbedaan usia yang jauh antara kedua pasangan, hambatan mengenyam pendidikan, tekanan untuk segera mengandung sebagai bukti fertilitas, meningkatnya risiko kematian ibu dan bayi, meningkatnya risiko terinfeksi HIV maupun penyakit menular seksual lainnya serta karsinoma serviks. Selain itu mereka juga mengalami keterbatasan gerak dan dukungan dalam lingkup sosial, keterbatasan akses terhadap media informasi maupun aset ekonomi, serta kurangnya keterampilan kerja.5

 

4.1Faktor yang mendorong maraknya pernikahan anak

Di berbagai penjuru dunia, pernikahan anak merupakan masalah sosial dan ekonomi, yang diperumit dengan tradisi dan budaya dalam kelompok masyarakat, kini prakteknya berkembang dengan berbagai motif. Stigma sosial mengenai pernikahan setelah melewati masa pubertas yang dianggap aib pada kalangan tertentu, meningkatkan pula angka kejadian pernikahan anak.4-8,10 Motif ekonomi, harapan tercapainya keamanan sosial dan finansial setelah menikah menyebabkan banyak orangtua menyetujui pernikahan usia dini. Alasan orangtua menyetujui pernikahan anak ini seringkali dilandasi pula oleh ketakutan akan terjadinya kehamilan di luar nikah akibat pergaulan bebas atau untuk mempererat tali kekeluargaan.7

Secara umum, pernikahan anak lebih sering dijumpai di kalangan keluarga miskin, meskipun terjadi pula di kalangan keluarga kalangan ekonomi atas. Di banyak negara, pernikahan anak seringkali terkait dengan kemiskinan. Keterbatasan anak di bidang  finansial, terlebih karena ia tidak memiliki sumber daya manusia atau keterampilan. Sehingga hal ini  menjadi suatu paradoks, karena orangtua yang menyetujui pernikahan dini berharap dengan pernikahan anaknya tersebut akan meningkatkan status ekonomi anak dan keluarga.5,6,8

Anak laki-laki yang menikah di usia muda juga menderita secara finansial, hal ini karena mereka menjadi kepala keluarga dan beban ekonomi berada di pundak mereka. Namun bila   anak laki-laki dapat keluar rumah untuk mencari nafkah, hal ini seringkali tidak berlaku bagi anak perempuan, di mana mereka lebih banyak tinggal di rumah dan mengurus rumahtangga. Hal ini dibuktikan dengan pendapatan domestik bruto (PDB), di negara dengan banyak kasus pernikahan anak, maka didapatkan PDB yang rendah.8,9

Pernikahan anak membuat keluarga, masyarakat, bahkan negara mengalami kesulitan untuk lepas dari jerat kemiskinan. Hal ini bila berlangsung terus menerus tentunya dapat menyebabkan kualitas kesehatan dan kesejahteraan yang rendah baik bagi anak maupun keluarga dan lingkungannya. 6,8,13

4.2 Pernikahan anak dan derajat pendidikan

Semakin muda usia menikah, maka semakin rendah tingkat pendidikan yang dicapai oleh sang anak. Pernikahan anak seringkali menyebabkan anak putus sekolah, karena kini ia mempunyai tanggungjawab baru, yaitu sebagai istri dan calon ibu, atau kepala keluarga dan calon ayah, yang diharapkan berperan lebih banyak mengurus rumah tangga maupun menjadi tulang punggung keluarga dan keharusan mencari nafkah. Pola lainnya yaitu karena biaya pendidikan yang tak terjangkau, anak berhenti sekolah dan kemudian dinikahkan untuk mengalihkan beban tanggungjawab orangtua menghidupi anak tersebut kepada pasangannya.8

Dari berbagai penelitian didapatkan bahwa terdapat korelasi antara tingkat pendidikan dan usia saat menikah: semakin tinggi usia anak saat menikah maka pendidikan anak relatif lebih tinggi, demikian pula sebaliknya. Pernikahan di usia dini ini dari penelitian UNICEF tahun 2006 tampaknya berhubungan pula dengan derajat pendidikan yang rendah. Menunda usia pernikahan merupakan salah satu cara agar anak dapat mengenyam pendidikan lebih tinggi.5,8,13

 

4.3 Masalah domestik dalam pernikahan usia dini

Mempelai anak memiliki kapasitas yang terbatas untuk menyuarakan pendapat, menegosiasikan keinginan berhubungan seksual, memakai alat kontrasepsi, dan mengandung anak, demikian pula dengan aspek domestik lainnya. Selain itu, pernikahan dengan pasangan terpaut jauh usianya meningkatkan risiko keluarga menjadi tidak lengkap akibat perceraian, atau menjanda karena pasangan meninggal dunia.8,13

Ketidaksetaraan jender juga merupakan konsekuensi akibat pernikahan anak. Dominasi pasangan seringkali menyebabkan anak rentan terhadap kekerasan dalam rumah tangga. Kekerasan dalam rumah tangga tertinggi yaitu di India, terutama pada perempuan berusia 18 tahun.3 Perempuan yang menikah di usia yang lebih muda seringkali mengalami kekerasan. Anak yang menghadapi kekerasan dalam rumah tangga cenderung tidak melakukan perlawanan. Sebagai akibatnya, mereka pun tidak mendapat pemenuhan rasa aman baik di bidang sosial maupun finansial.5,6,8 Sekali lagi, tentu saja hal ini membahayakan kesehatan mental dan fisik, dan juga jiwa mereka.5,8,10

4.4 Kesehatan reproduksi dan pernikahan usia dini

Pernikahan anak ini berhubungan erat dengan fertilitas yang tinggi, kehamilan dengan jarak yang singkat, juga terjadinya kehamilan yang tidak diinginkan.14,15 Penting untuk diketahui bahwa kehamilan pada usia kurang dari 17 tahun meningkatkan risiko komplikasi medis, baik pada ibu maupun pada anak. Kehamilan di usia yang sangat muda ini ternyata berkorelasi dengan angka kematian dan kesakitan ibu. Disebutkan bahwa anak perempuan berusia 10-14 tahun berisiko lima kali lipat meninggal saat hamil maupun bersalin dibandingkan kelompok usia 20-24 tahun, sementara risiko ini meningkat dua kali lipat pada kelompok usia 15-19 tahun.5,9,10 Di Kamerun, Etiopia dan  Nigeria, angka kematian ibu usia di bawah 16 tahun bahkan lebih tinggi hingga 6 kali lipat.5

Anatomi tubuh anak belum siap untuk proses mengandung maupun melahirkan, sehingga dapat terjadi komplikasi berupa obstructed labour serta obstetric fistula. Data dari UNPFA tahun 2003, dikatakan bahwa 15 hingga 30% di antara persalinan di usia dini disertai dengan komplikasi kronik, yaitu obstetric fistula. Fistula merupakan kerusakan pada organ wanita yang menyebabkan kebocoran urin atau feses ke dalam vagina. Wanita berusia kurang dari 20 tahun sangat rentan mengalami obstetric fistula. Obstetric fistula ini dapat terjadi pula akibat hubungan seksual di usia dini.5,10

Mudanya usia saat melakukan hubungan seksual pertamakali juga meningkatkan risiko penyakit menular seksual, hingga infeksi HIV. Pernikahan usia muda juga merupakan faktor risiko untuk terjadinya karsinoma serviks. Banyak remaja yang menikah dini berhenti sekolah saat mereka terikat dalam lembaga pernikahan, mereka seringkali tidak memahami dasar kesehatan reproduksi, termasuk di dalamnya risiko infeksi HIV. Mitos yang berlaku di Afrika yaitu para lelaki harus menikahi perawan agar sembuh dari infeksi HIV, sehingga hal ini meningkatkan risiko infeksi HIV pada anak yang dinikahi begitu pula terhadap bayi yang dikandungnya. Infeksi HIV terbesar didapatkan sebagai penularan langsung dari partner seks yang telah terinfeksi sebelumnya. Lebih jauh lagi, perbedaan usia yang terlampau jauh menyebabkan anak hampir tidak mungkin meminta hubungan seks yang aman akibat dominasi pasangan.5-10,13  Keterbatasan gerak sebagai istri dan kurangnya dukungan untuk mendapatkan pelayanan kesehatan karena terbentur kondisi ijin suami, keterbatasan ekonomi, maka penghalang ini tentunya berkontribusi terhadap meningkatnya angka morbiditas dan mortalitas pada remaja yang hamil.14,15

4.5 Anak yang dilahirkan dari pernikahan usia dini

Perlu diingat pula bahwa saat anak yang masih bertumbuh mengalami proses kehamilan, terjadi persaingan nutrisi dengan janin yang dikandungnya, sehingga berat badan ibu hamil seringkali sulit naik, dapat disertai dengan anemia karena defisiensi nutrisi, serta berisiko melahirkan bayi dengan berat badan lahir rendah (risiko dua kali lipat lebih tinggi dibandingkan kehamilan pada populasi dewasa). Didapatkan bahwa sekitar 14% bayi yang lahir dari ibu berusia remaja di bawah 17 tahun adalah prematur. Anatomi panggul yang masih dalam pertumbuhan berisiko untuk terjadinya persalinan lama sehingga meningkatkan angka kematian bayi dan kematian neonatus (berisiko tiga kali lipat lebih tinggi dibandingkan kehamilan pada populasi dewasa).16,17 Depresi pada saat berlangsungnya kehamilan berisiko terhadap kejadian keguguran, berat badan lahir rendah dan lainnya. Depresi juga berhubungan dengan peningkatan tekanan darah, sehingga meningkatkan risiko terjadinya eklamsi yang membahayakan janin maupun ibu yang mengandungnya.16

Asuhan antenatal yang baik sebenarnya dapat mengurangi terjadinya komplikasi yang disebutkan di atas, namun sayangnya karena keterbatasan ekonomi, atau keterbatasan mobilitas dan berpendapat, maka para istri berusia muda ini seringkali tidak mendapatkan layanan kesehatan yang dibutuhkannya, sehingga meningkatkan risiko komplikasi maternal dan mortalitas akibat kehamilan di usia dini.5,10

Pernikahan anak menyebabkan seorang anak berubah menjadi “dewasa” di usia yang muda, dengan keterbatasan keterampilan, pendidikan, dan akses terhadap aset ekonomis serta pengambilan keputusan untuk pemenuhan kebutuhan dasar hidup, sehingga ini menjadi suatu lingkaran setan yang sangat berpengaruh terhadap kesejahteraan anak yang lahir dari pernikahan usia dini.9 Menjadi orangtua di usia dini disertai kurangnya keterampilan mengasuh anak sebagaimana yang dimiliki orang dewasa, maka hal ini menempatkan anak yang dilahirkan dari pernikahan dini berisiko mengalami perlakuan salah dan atau penelantaran. Berbagai penelitian menunjukkan bahwa anak yang dilahirkan dari pernikahan usia dini berisiko mengalami keterlambatan perkembangan, kesulitan belajar, gangguan perilaku dan cenderung menjadi orangtua pula di usia dini.17,20

4.6 Komplikasi psikososial akibat pernikahan dan kehamilan di usia dini

Komplikasi psikososial akibat pernikahan dan kehamilan di usia dini meliputi terputusnya pendidikan anak, kesempatan menyuarakan pendapat yang terbatas termasuk didalamnya mengenai perencanaan kehamilan, selain juga depresi. Terdapat penelitian yang menunjukkan bahwa outcome negatif sosial jangka panjang pun tak terhindarkan, dimana ibu yang mengandung di usia dini masih mengalami trauma berkepanjangan, selain juga mengalami krisis percaya diri.17

Anak juga secara psikologis belum siap untuk bertanggungjawab dan berperan sebagai istri, partner seks, ibu; sehingga jelas bahwa pernikahan anak menyebabkan imbas negatif terhadap kesejahteraan psikologis serta perkembangan kepribadian mereka.7

 

4.7 Tinjauan Hukum dalam Pernikahan Usia Dini

Anak adalah amanah dan karunia Tuhan Yang Maha Esa, yang dalam dirinya melekat harkat dan martabat sebagai manusia seutuhnya. Sebagai generasi muda penerus cita-cita perjuangan bangsa, anak memiliki peran strategis dan mempunyai ciri dan sifat khusus yang menjamin kelangsungan eksistensi bangsa dan negara pada masa depan. Agar setiap anak kelak mampu memikul tanggung jawab tersebut, maka ia perlu mendapat kesempatan yang seluas-luasnya untuk tumbuh dan berkembang secara optimal, baik fisik, mental maupun sosial, dan berakhlak mulia, perlu dilakukan upaya perlindungan serta untuk mewujudkan kesejahteraan anak dengan memberikan jaminan terhadap pemenuhan hak-haknya serta adanya perlakuan tanpa diskriminasi.18

Berkaitan dengan sejarah serta perkembangan dalam perjuangan hak-hak anak,  Eglantyna Jebb menyampaikan dalam rancangan deklarasi hak anak, bahwa anak harus dilindungi tanpa mempertimbangkan ras, kewarganegaraan atau kebangsaan, anak harus mendapat pengasuhan demi keutuhan keluarga, selain itu anak juga harus berkembang normal baik moral dan spiritual, serta dilindungi dalam berbagai bentuk eksploitasi. Deklarasi ini kemudian diadopsi oleh Liga Bangsa-bangsa yang dikenal sebagai Deklarasi Jenewa. Pada perkembangan selanjutnya, tahun 1948 Majelis Umum PBB menyatakan Hak Khusus bagi Anak yang direvisi di tahun 1959. Pada tahun 1979 yang merupakan Tahun Anak Internasional, rancangan Konvensi Hak Anak pun mulai disusun, perumusannya selesai pada tahun 1989 dan langsung diadopsi oleh Majelis Umum PBB, sehingga KHA (Convention on the Rights of the Child) mulai berlaku sebagai hukum internasional.7

Konvensi Hak Anak telah menjadi bagian dari sistem hukum nasional, sehingga sebagai konsekuensinya kita wajib mengakui dan memenuhi hak anak sebagaimana dirumuskan dalam KHA. Salah satu prinsip dalam KHA yaitu Kepentingan Yang Terbaik Bagi Anak. Yang dimaksud dengan ASAS KEPENTINGAN TERBAIK BAGI ANAK di sini adalah bahwa dalam semua tindakan yang berkaitan dengan anak yang dilakukan oleh pemerintah, masyarakat, badan legislatif dan yudikatif, kepentingan yang terbaik bagi anak harus menjadi pertimbangan utama.9,18

Tanggal 25 Agustus 1990, Indonesia meratifikasi KHA melalui Keppres No.36 tahun 1990. Dan di bulan Oktober 2002, Indonesia mengesahkan UU Perlindungan Anak (UU PA) No.23 tahun 2002.18 Pengesahan UU tersebut bertujuan untuk mewujudkan perlindungan dan kesejahteraan anak. Dalam undang-undang tersebut dinyatakan dengan jelas bahwa Negara Kesatuan Republik Indonesia menjamin kesejahteraan tiap-tiap warga negaranya, termasuk perlindungan terhadap hak anak yang merupakan hak asasi manusia.18

Dalam UU PA pasal 1 ayat 2 disebutkan bahwa perlindungan anak adalah segala kegiatan untuk menjamin dan melindungi anak dan hak-haknya agar dapat hidup, tumbuh, berkembang, dan berpartisipasi, secara optimal sesuai dengan harkat dan martabat kemanusiaan, serta mendapat perlindungan dari kekerasan dan diskriminasi.18

Dalam UU PA pasal 4 disebutkan bahwa setiap anak berhak untuk dapat hidup, tumbuh, berkembang, dan berpartisipasi secara wajar sesuai dengan harkat dan martabat kemanusiaan, serta mendapat perlindungan dari kekerasan dan diskriminasi. Sedangkan dalam pasal 8 disebutkan bahwa setiap anak berhak memperoleh pelayanan kesehatan dan jaminan sosial sesuai dengan kebutuhan fisik, mental, spiritual, dan sosial. Setiap anak berhak memperoleh pendidikan dan pengajaran dalam rangka pengembangan pribadinya dan tingkat kecerdasannya sesuai dengan minat dan bakatnya (pasal 9). Anak juga berhak untuk menyatakan dan didengar pendapatnya, menerima, mencari, dan memberikan informasi sesuai dengan tingkat kecerdasan dan usianya demi pengembangan dirinya sesuai dengan nilai-nilai kesusilaan dan kepatutan (pasal 10).18

Orangtua beranggapan bahwa menikahkan anak mereka berarti suatu bentuk perlindungan terhadap sang anak, namun hal ini justru menyebabkan hilangnya kesempatan anak untuk berkembang, tumbuh sehat, dan kehilangan kebebasan dalam memilih.19 Dalam Deklarasi Hak Asasi Manusia, dikatakan bahwa pernikahan harus dilakukan atas persetujuan penuh kedua pasangan. Namun kenyataan yang dihadapi dalam pernikahan anak ini, persetujuan menikah seringkali merupakan akumulasi dari paksaan atau tekanan orangtua/wali anak, sehingga setujunya anak untuk menikah seringkali sebagai bentuk bakti dan hormat pada orangtua. Dalam hal ini, mengingat berbagai konsekuensi yang dihadapi anak terkait dengan pernikahan dini sebagaimana telah dibahas sebelumnya, maka  pernikahan anak tentunya menyebabkan tidak terpenuhinya prinsip “yang terbaik untuk anak”, sehingga hal ini merupakan pelanggaran terhadap hak asasi anak.4,5,9 Pernikahan di bawah usia ini juga merupakan pelanggaran hukum, karena perkawinan tidak dicatatkan.19

Dalam UU Perlindungan Anak dengan jelas disebutkan pula mengenai kewajiban orangtua dan masyarakat untuk melindungi anak, serta kewajiban orangtua untuk mencegah terjadinya perkawinan pada usia anak-anak (pasal 26). Sanksi pidana berupa hukuman kurung penjara dan denda diatur dalam pasal 77-90 bila didapatkan pelanggaran terhadap pasal-pasal perlindungan anak.18

 

5. Usulan-usulan Terkait dengan Pernikahan Usia Dini

Pernikahan anak merupakan masalah global di seluruh dunia. Berbagai langkah strategis telah diambil oleh lembaga negara maupun lembaga masyarakat sehubungan dengan praktek pernikahan anak, yang bertujuan untuk menghentikan praktek ini. Di Indonesia sendiri, Komnas Perempuan mengusulkan perubahan undang-undang perkawinan mengenai batas usia minimal untuk menikah; yaitu usia minimal perempuan menjadi 19 tahun dan memasukkan pencatatan perkawinan sebagai rukun sahnya perkawinan.1 Pada bulan Januari 2001, Menteri Pemberdayaan Perempuan  mengajukan usulan kenaikan usia minimal dalam UU Perkawinan menjadi 20 tahun, merujuk pada riset bahwa potensi kematian ibu yang melahirkan di usia 18-19 tahun mencapai 5 kali lipat. Namun usulan tersebut belum diterima. Kontroversi menurunkan batas usia pernikahan juga terjadi, merujuk pada pola pergaulan anak muda masa kini yang  lebih bebas, berisiko terhadap terjadinya kehamilan di luar pernikahan sehingga dipertimbangkan untuk menikah dini.19

Mempelai anak dengan keterbatasan keterampilan dan keahlian membuatnya berkesempatan kecil mendapatkan pekerjaan yang dapat menunjang ekonomi keluarga. Dengan menghentikan praktek pernikahan dini ini diharapkan dapat memutus mata rantai kemiskinan. Oleh karena itu perlu disusun program-program yang bertujuan untuk meningkatkan keterampilan serta pengadaan lapangan kerja.5,8

6. Ringkasan

Dari pembahasan di atas, tampaknya dapat disimpulkan bahwa usaha meningkatkan derajat pendidikan anak merupakan salah satu usaha untuk menghentikan praktek pernikahan anak. Anak yang menikah pun perlu didukung untuk terus melanjutkan sekolahnya. Pernikahan anak terutama berhubungan dengan tingkat pendidikan yang rendah dan motif ekonomi terutama disebabkan oleh jeratan kemiskinan. Pencegahan merupakan fokus utama dalam intervensi pernikahan usia dini. Hal ini dapat dicapai melalu pendekatan terhadap ketua adat dalam kelompok masyarakat dan orangtua oleh tenaga kesehatan.

Peran dokter anak sebagai fasilitator bertujuan untuk meningkatkan kesehatan reproduksi anak, sehingga pada akhirnya dapat mencapai tujuan  tumbuh kembang optimal sesuai dengan potensinya bagi setiap anak.

Permasalahan ini merupakan permasalahan yang pelik, memerlukan koordinasi dari berbagai pihak terutama pemerintah dalam pembuatan suatu kebijakan. Konvensi Hak Anak harus diimplementasikan seluruhnya, selain itu perlu juga sosialisasi lebih jauh mengenai UU Perlindungan Anak. Secara keseluruhan, diperlukan kepedulian semua pihak untuk menghentikan praktek pernikahan anak, dalam rangka meningkatkan kesejahteraan anak, serta mendukung mereka untuk tumbuh dan berkembang secara optimal.

—————————————————

Catatan: artikel ini telah diterbitkan dalam jurnal Sari Pediatri

Advertisements

Obat Puyer untuk Pasien Anak — Crushed medicine for pediatric patients

Nah mesti buru-buru dicatat nih, sebelum kelupaan! Kemarin saya sempat mengikuti online symposium/webinar IDAI, dengan topik yang deket banget sama praktek sehari-hari. Iya, soal pemberian sediaan puyer untuk pasien, khususnya pasien anak-anak.

Kalau tertarik lebih jauh mengenai topik ini, perlu membaca dan mengkaji lebih dalam tentang farmakodinamik-farmakokinetik obat-obatan  yang umum  diresepkan dokter, dengan fokus bagaimana bila diberikan dalam bentuk puyer.

Yang ini bahan bacaan bagus dari Seattle Hospital – Amerika Serikat, tentang cara memberikan obat pada anak, dapat diunduh di sini. Fokus penelitian terkini mengenai sediaan obat pada anak yang dimuat pada laman American Academy of Pediatrics juga bisa dibaca di sini, dan yang paling lengkap yaitu panduan dari WHO mengenai pemberian obat bisa diunduh di sini.

Udah, bahan bacaannya segitu dulu ya, takutnya itu juga ngga beres-beres, hehehe.

Kembali lagi ke seminar online yang saya ikuti, poin penting yang dapat saya rangkum diantaranya adalah sebagai berikut

  1. Anak bukanlah dewasa dalam bentuk miniatur
  2. Belum semua jenis obat tersedia dalam formulasi yang “age appropiate”. Maksudnya, belum semua obat tersedia dalam bentuk sirup drop, sirup, sirup forte, yang pemberiannya dapat disesuaikan dengan usia sang anak
  3. Keterbatasan penyediaan obat yang formulasinya “age appropiate” tersebut dapat terkendala oleh berbagai macam hal
  4. Pemberian obat dengan sediaan puyer dibenarkan, dalam kondisi tidak tersedianya formulasi obat yang age appropiate.
  5. Sebaiknya dalam satu puyer mengandung satu macam obat saja (tidak polifarmasi), namun demikian, masih dibenarkan bila satu puyer mengandung maksimal 3 macam obat
  6. Puyer antibiotika dipisah, tidak dicampur dengan obat jenis lainnya
  7. Cara pemberian puyer yaitu dilarutkan dengan air putih, tidak dilarutkan dengan susu atau ASI, atau minuman lainnya
  8. Perhatikan interaksi obat, farmakodinamik dan farmakokinetik obat-obat yang diberikan dalam bentuk puyer
  9. Bila puyer berubah warna dan rasa, singkirkan puyer tersebut. mengenai berapa lama puyer stabil dari sejak dibuat dalam bentuk crushed medicine tersebut, tidak ada patokan pasti. hanya mengandalkan tanggal kadularsa yang tertera pada kemasan obat tersebut
  10. Penyimpanan puyer tidak didalam kulkas, cukup ditempat yang kering dan bersih.

Diskusi dan pertanyaan yang diajukan sesama kolega mengenai puyer dan pemberiannya pada praktek sehari-hari menjadi menarik, dan dari tautan yang saya berikan di atas, ada perbedaan pendapat dan rekomendasi. Contohnya, pelarut puyer menggunakan air putih. Seattle Hospital for Children, pada lembar edukasi mengenai cara pemberian obat pada anak, malah menganjurkan dicampur dengan sirup mapel, makan eskrim sebelum jadwal minum obat, atau minuman kesukaan si anak. Kepustakaan yang digunakan pada lembar edukasi tersebut adalah dari Pediatric Oncology Resource Center, “How to Get Kids to Take … Pills!” http://www.acor.org/ped-onc/treatment/Pills/pills.html. Secara subjektif, prinsip pemberian obat menekankan pada kenyamanan anak, untuk menghindari risiko penolakan dari anak. Terlepas dari pasien onkologi ataupun bukan, setiap anak berhak mendapatkan kenyamanan saat menerima obat-obatan, sehingga pengalaman minum obat tidak menjadi sesuatu yang menakutkan dan sama sekali tidak menyenangkan. Dan bukan hanya anak saja yang stress, orangtua atau pihak lain yang bertanggungjawab memberikan obat juga tentunya akan merasakan ketidaknyamanan dan stress. Take home message yang disampaikan pembicara dalam webinar kemarin terutama pada farmakokinetik, farmakodinamik, interaksi obat — sehingga kita perlu menghindari hal-hal yang dapat mempengaruhi absorbsi obat, misalnya menggunakan susu/ASI sebagai pelarut puyer. Perbedaan rekomendasi di belahan bumi yang berjauhan ini sayang sekali belum didiskusikan lebih  lanjut.

So, anything cross your mind? Let’s discuss about it!

 

Dancing fingers

Hello!

I know, I know, quite some times since my last post. I got you whole new stories here, though, don’t be sad — it’s gonna be so much fun! And when I said FUN — i didn’t really mean it, heheh… Fun here means that we’re going to take a look back at some medicinal facts and pearls, it’s gonna be a painful moment especially for a sloth — I mean slow, slow learner like me — it’s the age, I know… I know…

Oki doki, so what’s new on the ER alley lately, guys? Anything hot?

I’ve been thinking to do a recap about Neonatal Resuscitation (the newest is 7th ed.) and also recap about Pediatric Advanced Life Support. Sounds like a plan to me.

What do you think? I’m ready to let my fingers dance on the keyboard of my abused apple laptop!

Tell me what you think, alright? And meanwhile, I got myself a dance lecture to finish and share with you when it’s done!

 

–xoxo–

 

Playful Australia

image

Yes. I have to say that Australia is fun! Magnificently brilliantly fun, due to the little thing, that incredibly so useful, it make my life and maybe yours too, so much easier. Therefore makes living Australia so much fun!

Hmmm… Betcha wondering what it is! You can guess anything, but I think you never expect that the answer is: the ramps. Hey hey, no judgement. Its just my point of view as a mother of three who always strolls along the way.

DSC01870

Anyway, not only the ramp of course that make this homeland of koala such a good place to live in,  the weather is another thing.   Here I found that it’s never too hot for one summer day, and never too cold for another winter day. Thank goodness!

And the beaches! Who wouldn’t love those beautiful beaches. The wonderfully amazing sunrise or sunset. The wind and the breeze. And the hot guys or babes for addition.  😉

DSC00678-1

DSC00679-1

And the playgrounds! It  plays an important role in a family life, as ‘release the baby’ (quote from The Croods – nice family movie, need parental guidance tough) so they can run or jump or crawl or basically doing anything, will lower their stress hormones and also the mother’s as well, while  increasing the endorphins or happiness hormones in everyone! Then it a win win solutions. Kids are playing happily,  mom can sit down and relax while sip a cup of coffee.

DSC01667

DSC01972

DSC01995 DSC01979 DSC02019

And last but not least, the dumping day, haha…
Walking around the community and when its comes your luck, you may find things you need just pop in front of you, at the sidewalk. Yees…this is a smart way to own a lot of stuff, without losing any penny! Sometimes you can found barely new mattress, three seater couch, a dining chair, or whatever, in pretty good condition but a bit old fashioned. Me, I addicted to toys. So far, I have found an otoped/scooter, a skateboard, one tricycles, a cute noisy activity table, playing mats, kids chair, yoga ball, and a hilarious Big Book of Top Gear! We all know that kids easily get bored with toys they’ve owned. So they will ask for more, I’m sure. And dumping day is a great solution! 😉

I think the extra money can be spent on something more interesting like one day spa… Agree? 🙂

DSC01908

Well, it’s twelve o clock on hickory dickory clock. Got to stop now.
But will be back soon again to share another story, another playful day here in Aussie.  My wishes for you, have a blissful wonderful playful day, wherever you are…

Prayer.

Dear God,
I’m a mother of three. Three beautiful angels that’s been and always been warming my life with their laughs and smile. Three angels that You’ve entrusted us their lives in our hands. For this, we always feel grateful.

From them we’ve learnt so much. Much more than what we’ve been experiencing in our whole lifetime. For this, we always, always feel thankful.

Looking at the world this time, I found myself worrying, could my little angels make the struggle? Life can be easy, can be hard, uncertainty about the future make my heart tremble. How I just want to hold you Angels, hold you tight in my arms, and let me face the world for you.

But I know, I won’t be by your side forever, Angels…

Dear God, to You I can only lean my hopes, my prayers, my children. Lead them the good way in life, to be a good person that able to maintain their self-respect, dignity, and brave to stand up for what they believe in. Help them to be useful for others in kindness, and please count it as their fields of charity to reach for Your blessing.

Great challenges await in the future, O God, please strengthen their hearts and faith, to always remember You, in every step they make…

DSC01664

Life may not always be up, it might need you to fight and sacrifice. Although I’m not always be around, Angels, I always pray, may God take a good care of you, protect you, and blessing you with grace and mercy …

Living Australia, should I or shouldn’t I?

People often scared of changes. Either that was about changing routes to shops, favourite coffee or restaurants, hairstyles, it’s the nature of human being to nest in their comfort zone.

When my husband made his opportunity to continue his education in Australia, the decision of moving the whole gang –  yup, 2 adults and 3 children – from Indonesia to the homeland of koalas and kangaroos, it meant a HUGE change for our family. And yes, you’re absolutely right.  We’re scared.

It’s a big… big family. One child that have to go to school and two other children that still are toddler and baby.

How can we adjust to the living culture, not to mention the fact that we might have to tighten the budgets.  Everybody knows that Australia is the third high priced living cost country in the world!

But then, what really matter is that togetherness truly the most important thing in family life!

So,that’s all, and here we are, enjoying every moment of our life, together. Be ready to face every changes in our lives, together. It’s not scary anymore, it’s likely an adventure.

No matter where, with its up and down, as long as we stay together: feeling blessed, always.

image

to be or not to be. that is the quest(ion).

Everyone has their own battle. It is depend on the path they have chosen. The path believed to bring them happiness, not sadness. The joyful, glorious path.

You should embrace yourself, that the great thing in life, isn’t just things. It’s more than that.

You can always make money. But you can not make memories.

Things cannot be my priority as it only make me a lost soul in the glorious path.

People keep questioning the same topic, all about the career, the job, the degree, by the end of the day, they’ve only just measured you with their materialistic mind.

Live our life with happiness, be grateful for everything. If we die, ask yourself, would all those materialistic things be your best friend forever in the grave?

To be or not to be, it’s all up to us. We can always choose the battle we’d like to conquer. Whatever we choose,choose wise. And at last, hope that the battle will bring out the very very BEST in ourself…

image

Indikasi Pemeriksaan Radiografi pada Kasus Kegawatdaruratan Pediatrik

Radiografi kepala (Schaedel AP, lateral) APLS, BMJ Books, 2001

  • Penurunan kesadaran, amnesia
  • Terdapat tanda dan gejala neurologis
  • Perdarahan atau rembes cairan LCS dari hidung atau telinga
  • Trauma penetrasi atau benda asing di kepala
  • Memar dan pembengkakan di area kulit kepala
  • Trauma kepala
  • Kesulitan dalam penilaian pasien
  • Bayi (abuse)
  • Intoksikasi alkohol

Panduan Pemeriksaan CT scan pada anak dengan trauma kepala

GCS Fraktur Kondisi anak CT scan
15 Tidak Tidak Tidak
15 Ya Tidak Dipertimbangkan
15 Ya Tanda, gejala Ya
13-14 Tidak Tidak Dipertimbangkan
13-14 Ya Tidak Ya
<12 Ya/tidak Gejala/tanda +/- Ya

APLS, BMJ Books, 2001

Hepatomegali

Pembesaran hati dapat disebabkan berbagai macam mekanisme. Konsep ukuran normal hepar tergantung usia dan klinis

  • Pada anak, hepar normal sampai 2 cm Bawah arcus costarum (bac) dextra
  • Pada bayi, ekstensi tepi hati >3,5 cm bac dikatakan hepatomegali
  • Lakukan perkusi dan nilailah dullness pada hepar batas atas dan batas bawah arkus kosta (span range)

Usia 1 minggu:  liver span 4,5 – 5 cm
Usia 12 tahun laki-laki: 7-8 cm; sedangkan perempuan: 6 – 6,5 cm

 

Perkiraan ekstensi hepar sampai dengan di bawah arkus kostarum pada garis midklavikular anak usia >12 tahun (liver span) dinyatakan dalam sentimeter (cm), dengan menggunakan rumus berikut ini

o Laki-laki: 0,032 x BB (pon) + 0,18 X TB (inches) – 7,86
o Perempuan: 0,027 x BB (pon) + 0,22 X TB (inches) – 10,75

Catatan:BB, berat badan; TB, tinggi badan; 1 kilogram = 2,2 pon; 1 inchi = 2,54 cm

 

Bacaan lebih lanjut di Nelson’s Textbook of Pediatrics 18th ed.

Mechanical Ventilator for Dummies – part 1: the physiology

Banyak mahasiswa, residen, dokter umum, suster, dan tenaga medis lainnya khawatir saat melihat ventilator. Enggan mendekat, apalagi menyentuh tombol-tombolnya. Tampaknya semuanya berawal dari ketidaktahuan dan kurangnya keakraban antara ventilator dan mereka. Ya, bila tak kenal maka tak sayang. Ventilator bukanlah mesin dari luar angkasa yang nampaknya jauh untuk dijangkau apalagi dikuasai. Pengetahuan yang memadai tentang fisiologi manusia akan membantu kita memahami alat bantu satu ini, yang sangat berjasa menyambung kehidupan para pasien yang membutuhkannya. Maka, kenalilah dengan baik ventilatormu, dan biarkan keakraban muncul di antara kalian. Selamat memulai kebersamaan dengan ventilator. Who knows, maybe after this both of you will have a little date…

FISIOLOGI PERNAPASAN MANUSIA
SISTEM RESPIRATORIK
Istilah respirasi memiliki arti yang beragam. Respirasi seluler misalnya, merujuk pada reaksi intraseluler yang terjadi antara oksigen dan molekul organik lain sehingga menghasilkan karbondioksida, air dan energi (ATP). Sedangkan respirasi eksternal, merupakan proses pertukaran gas antara lingkungan dengan sel-sel tubuh.(1) Respirasi ekternal dapat dibagi kedalam 4 proses yang saling berkaitan, yaitu:
1. Ventilasi, merupakan proses pertukaran udara atmosfer dengan paru-paru. Orang awam menyebutnya dengan istilah bernapas. Inspirasi yaitu proses pergerakan udara ke dalam paru-paru, sedangkan ekspirasi merupakan pergerakan udara keluar dari paru-paru.
2. Proses pertukaran antara oksigen dan karbondioksida, dari darah dengan paru-paru
3. Transpor oksigen dan karbondioksida di dalam darah
4. Proses pertukaran gas antara darah dengan sel-sel tubuh (1)
Perhatikan bahwa respirasi eksternal memerlukan koordinasi antara sistem respiratorik dan kardiovaskuler. Termasuk ke dalam sistem respiratorik yaitu saluran pernapasan (mulut – hidung – faring – laring – trakea – bronkus – bronkiolus), alveoli, tulang dan otot rongga dada (toraks), dan dapat dilihat pada gambar di bawah ini.

mech vent1 mech vent2

Alveolus merupakan tempat pertukaran gas. Alveoli tidak mengandung jaringan otot, sehingga jaringan paru ini tidak dapat berkontraksi. Namun, jaringan penyokong paru diantara sel epitel alveolar mengandung serabut elastin yang mampu menghasilkan tarikan elastis (recoil) pada saat paru mengembang. Pertukaran gas di paru terjadi melalui proses difusi, antara sel alveolar tipe I dengan pembuluh kapiler.(1)

SIRKULASI PULMONER
Sirkulasi pulmoner diawali dengan arteri pulmoner yang menerima darah berkadar oksigen rendah dari ventrikel kanan. Arteri pulmoner bercabang ke masing-masing paru kiri dan kanan. Darah yang telah teroksigenasi kembali ke dalam jantung melalui vena pulmoner. Sirkulasi di paru mengambil sekitar 10% total volume darah (sekitar 500 mL darah pada orang dewasa). Sekitar 75 mL berada di kapiler, dan sisanya ada di arteri dan vena pulmoner. Kecepatan aliran darah ke paru cukup tinggi, akibat cardiac output dari ventrikel kanan yang besar, dalam hal ini sekitar 5 L/menit. Meskipun kecepatan aliran darah ke paru cukup besar, namun ternyata tekanan darah dalam sirkulasi pulmoner tidaklah tinggi, justru rendah. Hal ini terjadi karena ventrikel kanan tidak perlu memompa darah dengan kuat untuk menciptakan aliran darah, sebab resistensi sirkulasi pulmoner rendah. Resistensi pulmoner yang rendah ini terjadi akibat total panjang pembuluh darah paru yang lebih pendek, distensibilitas, dan luas area yang besar dari arteriol. Karena tekanan yang rendah di sirkulasi pulmoner, maka tekanan hidrostatik yang berfungsi mendorong cairan berpindah dari pembuluh kapiler ke ruang interstisial juga rendah. Sistem limfatik akan dapat bekerja secara efisien memindahkan dan memfiltrasi cairan dari kapiler pulmonar sehingga menjaga volume cairan interstisial tetap sedikit jumlahnya. Akibatnya, jarak antara alveolus dan kapiler pun menjadi dekat, sehingga gas dapat berdifusi dengan cepat di antaranya.(1)

mech vent3

HUKUM – HUKUM FISIKA YANG BERLAKU PADA GAS
Hukum Dalton: total tekanan campuran gas merupakan jumlah tekanan masing-masing jenis gas. Tekanan masing-masing gas (misalnya, tekanan oksigen, atau tekanan karbondioksida) disebut sebagai partial pressure, Pgas (misalnya, PO2, atau PCO2).
Hukum Boyle: Gas berpindah dari tempat bertekanan tinggi ke tempat bertekanan rendah. Perubahan bentuk toraks saat bernapas menyebabkan perubahan tekanan paru-paru dan berkontribusi terhadap terjadinya aliran gas. Persamaan Boyle dinyatakan sebagai berikut: P1 V1 = P¬2 V2 dimana P merupakan tekanan dan V merupakan volume. Pada sistem respirasi, perubahan volume rongga dada saat ventilasi menyebabkan perubahan gradien tekanan yang menimbulkan aliran udara. Saat volume rongga dada meningkat karena inspirasi, tekanan di alveolar menurun dan udara mengalir ke dalam sistem respiratorik. Ketika volume rongga dada berkurang karena proses ekspirasi, tekanan alveolar meningkat, udara mengalir keluar menuju atmosfer.(1)

VENTILASI
Saluran napas atas berperan penting dalam penyesuaian udara yang dihirup sebelum mencapai alveoli. Struktur anatominya memungkinkan untuk terjadinya proses penghangatan udara mencapai suhu 370C agar suhu inti tubuh tidak berubah dan alveoli tidak mengalami kerusakan akibat terpapar udara dingin. Yang kedua adalah melembabkan udara hingga 100% sehingga kelembaban epitel yang berperan dalam proses pertukaran udara tidak mengalami kekeringan, dan yang ketiga yaitu memfilter material asing sehingga virus, bakteri, ataupun partikel inorganik tidak mencapai alveoli. Pada keadaan normal, saat mencapai alveoli maka udara akan bersuhu 370C dengan kelembaban 100%. Filtrasi udara juga terjadi sepanjang trakea dan bronkus. Pada saluran tersebut terdapat lapisan epitel bersilia yang mensekresikan mukus sekaligus melarutkan cairan salin. Mukus akan memerangkap partikel berukuran lebih dari 2 mm, dan imunoglobulin yang terkandung di dalamnya akan melumpuhkan mikroorganisme yang terinhalasi. Lapisan mukus secara kontinyu bergerak dengan bantuan silia (mucus escalator) menuju faring, kemudian tertelan, selanjutnya zat asam dan enzim dalam lambung akan menghancurkan sisa-sisa mikroorganisme.(1)
Bernapas merupakan proses aktif yang melibatkan otot-otot pernapasan untuk menimbulkan pressure gradient. Otot-otot yang terlibat pada pernapasan saat istirahat adalah diafragma, interkostal, dan scalene. Pada pernapasan kuat (misalnya saat meniup instrumen musik, meniup balon), otot dada dan otot abdomen dapat terlibat saat bernapas. Aliran udara berbanding lurus dengan pressure gradient dan berbanding terbalik dengan resistensi jalan napas. (1)
Saat inspirasi, neuron motorik somatis akan memicu kontraksi diafragma dan otot-otot inspirasi. Saat diafragma berkontraksi, diafragma akan mendatar dan memperbesar rongga toraks, sehingga tekanan di alveoli menurun, sebagai hasil akhirnya terjadi aliran udara. Antara 60 – 75% volume inspirasi pernapasan dihasilkan dari kontraksi diafragma ini. Namun kontraksi diafragma untuk meningkatkan volume toraks hanya efektif bila disertai dengan pengangkatan sternum dan iga atas oleh otot scalenes. Tanpa bantuan otot lainnya, kontraksi diafragma tunggal akan menyebabkan tertariknya tulang iga bawah ke arah dalam sehingga justru menyebabkan berkurangnya volume toraks.
Perhatikan diagram di bawah ini.

mech vent4

Ditunjukkan dengan grafik yang berwarna hijau: Saat awal inspirasi (jeda sejenak antar napas), tekanan alveolar sama dengan tekanan atmosfer, sehingga tidak ada aliran udara. Pada saat inspirasi dimulai, kontraksi otot pernapasan dan diafragma meningkatkan volume toraks dan menurunkan tekanan alveoli. Tekanan alveoli turun dengan sangat cepat, lebih cepat daripada aliran udara masuk, dan mencapai titik tekanan alveolar terendahnya dalam separuh waktu yang dibutuhkan untuk menyelesaikan satu fase inspirasi saja. Dinding dada berhenti mengembang sesaat sebelum akhir fase inspirasi, namun aliran udara terus berjalan beberapa saat hingga tekanan di dalam paru sama dengan tekanan atmosfer. Pada akhir fase inspirasi, volume udara dalam paru mencapai nilai maksimalnya, dan tekanan alveolar sama dengan tekanan atmosfer (lihat grafik berwarna merah).
Di akhir inspirasi, impuls dari neuron somatik terhadap otot inspirasi akan berkurang sehingga otot akan relaksasi. Saat ekspirasi, volume toraks dan paru berkurang sedangkan tekanan udara dalam paru meningkat. Tekanan alveolar meningkat melebihi tekanan atmosfer sehingga terjadi aliran udara keluar dari paru-paru. Pada akhir ekspirasi, pergerakan udara berkurang, dan berhenti saat tekanan alveolar setara dengan tekanan atmosfer . volume paru oada saat ini mencapai titik terendahnya (ditunjukkan dengan grafik berwarna merah). Pada saat ini pula fase ekspirasi selesai, dan fase inspirasi berikutnya siap untuk dimulai. Otot ekspirasi meliputi otot interkostalis interna dan otot abdominalis. Berbagai penyakit yang menyebabkan kerusakan neuron motorik somatis pernapasan dan gangguan pada otot pernapasan akan menyebabkan gangguan ventilasi, misalnya pada keadan myasthenia gravis dan polio. (1)
Mengenai tekanan intrapleural, dijelaskan dengan grafik berwarna biru: tekanan intrapleural merupakan tekanan yang terbentuk pada cairan diantara kedua lapisan pleura, dan nilai normalnya lebih rendah daripada tekanan atmosfer (berkisar -3 mmHg). Tekanan ini penting dipertahankan, karena paru-paru pada dasarnya tidak memiliki kekuatan untuk mengembang dan mengempis secara mandiri, melainkan bergerak sejalan dengan kontraksi dan relaksasi toraks. Telah kita ketahui pula, bahwa paru “melekat” dengan rongga toraks melalui cairan pleura yang berada di antara lapisan pleura yang meliputi paru-paru. Keadaan yang menyebabkan gangguan tekanan intrapleural, misalnya pada kasus pneumotoraks, akan menyebabkan udara bebas mengalir masuk, dan mengakibatkan hambatan pengembangan jaringan paru itu sendiri. Tekanan intrapleural semakin negatif pada saat inspirasi. Tekanan ini tidak pernah mencapai ekuilibrium dengan tekanan atmosfer karena merupakan ruangan tertutup. (1)
Faktor lain yang mempengaruhi ventilasi yaitu compliance paru dan elastisitas paru, hal tersebut dapat berkaitan dengan jenis penyakit seperti emfisema, atau penyakit paru restriktif. Selain itu, surfaktan juga memegang peranan penting dalam ventilasi. Diketahui bahwa alveolus diselaputi oleh lapisan tipis cairan, yang bersama denga udara kemudian membentuk tegangan permukaan. Tegangan permukaan ini terjadi karena ion hidrogen berikatan dengan molekul air. Molekul-molekul permukaan saling tarik menarik dengan molekul air, namun tidak dengan molekul udara. Bila menganalogikan bahwa lapisan air ini berbentuk bulat karena menyelaputi alveoli yang berbentuk gelembung pula, maka tegangan permukaan akan menimbulkan gaya yang berpusat di tengah gelembung. Tegangan ini meningkatkan resistensi paru untuk meregang, sehingga alveoli cenderung kolaps setelah meregang. Tegangan permukaan ini juga meningkatkan usaha napas untuk mengembangkan alveoli. Hukum LaPlace menyatakan bahwa P = 2 x T/r, dimana P adalah tekanan dalam alveolus, T mewakili tegangan permukaan, dan r adalah ukuran jari-jari/radius alveolus. Sebagai contoh, dua alveoli yang berbeda ukuran, diliputi tegangan permukaan yang sama, maka di dalam alveolus yang ukurannya lebih kecil akan didapatkan tekanan yang lebih besar. Bila kedua alveoli yang berbeda ukuran itu berhubungan, udara akan mengalir dari alveolus kecil dengan tekanan yang lebih tinggi ke arah alveolus besar dengan tekanan yang lebih rendah. Akibat pergerakan udara tersebut, alveolus yang kecil cenderung mengalami kolaps. Surfaktan , merupakan molekul yang menurunkan tegangan permukaan dengan bekerja menghambat kekuatan kohesif antara molekul air, surfaktan lebih banyak ditemukan pada alveoli yang berukuran lebih kecil. Dengan surfaktan, kolaps pada alveoli kecil dapat dicegah selain juga menurunkan beban usaha untuk meregangkan alveoli pada usaha napas.(1)
Akhirnya, determinan utama resistensi jalan napas ditentukan oleh ukuran diameter jalan napas itu sendiri. Pada keadaan bronkokonstriksi, terjadi peningkatan resistensi aliran udara sehingga mengurangi jumlah udara yang dapat mencapai alveoli. Histamin merupakan parakrin yang memiliki aksi bronkokonstriktor kuat. Senyawa ini dilepaskan oleh sel mast sebagai respon terjadinya kerusakan sel atau pada reaksi alergi. Sebagai contoh kasus misalnya asma bronkiale, suatu penyakit paru obstruktif yang ditandai dengan bronkokonstriksi dan edema jalan napas.(1)

EFISIENSI PERNAPASAN: DITENTUKAN OLEH KECEPATAN DAN KEDALAMAN PERNAPASAN

Bila efisiensi jantung dinilai dengan perhitungan curah jantung (cardiac output), maka efektivitas pernapasan juga dapat diperkirakan dnegan menghitung total pulmonary ventilation, yaitu volume udara yang dipindahkan ke dalam dan luar paru selama satu menit. Total pulmonary ventilation disebut juga dengan minute volume, dihitung dengan persamaan sebagai berikut: Ventilation Rate x Tidal Volume = Total Pulmonary Ventilation. Namun harus diperhatikan bahwa udara yang memasuki saluran pernapasan tidak seluruhnya mengalami proses pertukaran gas, misalnya udara yang terdapat dalam trakea atau bronkus, sehingga ruang ini disebut sebagai anatomic dead space dengan volume sekitar 150 mL. Oleh karenanya, indikator efisiensi pernapasan yang lebih akurat yaitu dengan mengukur ventilasi alveolar, yaitu jumlah udara yang mencapai alveoli setiap menitnya, dengan rumus: ventilation rate x (tidal volume – dead space volume) = alveolar ventilation.

KOMPOSISI GAS DALAM ALVEOLI HANYA MENUNJUKKAN SEDIKIT VARIASI PADA SAAT BERNAPAS NORMAL
Bila ventilasi alveolar meningkat di atas normal (hiperventilasi), PO2 alveolar akan meningkat sedangkan PCO2 alveolar akan menurun. Namun pada keadaan pernapasan normal, tekanan PO2 dan PCO2 alveolar cenderung konstan. Hal ini terjadi karena jumlah oksigen yang memasuki alveoli kurang kebih sama dengan jumlah oksigen yang masuk ke dalam darah, serta jumlah udara yang memasuki paru-paru pada setiap pernapasan hanya berkisar kurang lebih 10% di atas total lung volume pada akhir inspirasi.

KESESUAIAN ANTARA VENTILASI DAN ALIRAN DARAH ALVEOLAR
Pembuluh kapiler paru memiliki keistimewaan karena mampu kolaps (collapsible). Jika tekanan aliran darah di suatu kapiler menurun hingga titik tertentu, maka kapiler tersebut akan menutup/kolaps dan mengalihkan aliran darah ke pembuluh kapiler lain dengan tekanan yang lebih tinggi. Sebagai contoh, saat melakukan pernapasan normal, bantalan pembuluh kapiler di apeks paru akan menutup karena tekanan hidrostatik yang rendah, sehingga aliran darah terutama berada di basal paru. Sedangkan pada saat olahraga atau melakukan latihan, bantalan kapiler di apeks paru akan membuka untuk memaksimalkan oksigenasi sejalan dengan curah jantung yang meningkat. Selain hal tersebut, tubuh juga berusaha melakukan penyesuaian lokal berupa kontraksi dan dilatasi bronkiolus serta arteriol. Kontraksi dan dilatasi bronkiolus dipengaruhi oleh tekanan CO2, peningkatan pCO2 dalam udara yang diekspirasi akan menyebabkan dilatasi bronkiolus, dan sebaliknya. Resistensi pembuluh arteriol terutama diatur oleh kandungan oksigen di dalam cairan interstisial disekitar arteriol. Peningkatan pO2 akan menyebabkan dilatasi pembuluh arteriol pulmoner (untuk membawa tambahan darah yang mampu membawa oksigen berlebih), namun menyebabkan vasokonstriksi pembuluh arteriol sistemik, dan sebaliknya.